Ini Dia Slipknot-nya Aceh

BANDA ACEH – Bagi para pecinta aliran musik metal di Aceh, nama Maggots Band mungkin tak asing di telinga. Band yang diisi oleh aneuk-aneuk Aceh ini mengusung genre etnic metal.

Jika Anda pernah mendengar Slipknot, band nu metal asal Iowa, Amerika, mungkin Maggots tak jauh beda. Pada medio tahun 2000, Maggots didirikan. Setelah kemunculan mereka beberapa kali di pentas lokal, Maggots kerap didapuk sebagai bintang tamu di festival-festival, baik di Aceh maupun nasional.

Karena alirannya etnic metal, maka Maggots pun punya lagu berlirik bahasa Aceh. Dengarlah “Ampoen”. Ini single yang berkisah tentang perang Aceh di masa konflik. Growling-growling (suara geraman khas metal) yang diperdengarkan Abenk, personil vokal growel Maggots di lagu ini, bercerita tentang kesia-siaan sebuah perang.

Selain Abenk, Maggots digawangi oleh Herry (Vokal), Jek Danil (gitar), Rudex (gitar), Gembel (disc jockey), Fany (bass), Roy (drum), dan Aulia Jakfar (perkusi). Semuanya dari Aceh.

Seperti Slipknot, kala manggung Maggots juga menghias muka mereka dengan topeng. Jangan lupa pula, nama Maggots sendiri diambil dari julukan fans-nya Slipknot. Walaupun karakter topeng itu terkesan garang, kata Aulia, semua personil Maggots adalah pribadi yang baik dan santun.

Lika-liku perjuangan Maggots mencari prestasi pernah mengantarkan mereka mewakili Aceh ke Surabaya untuk mengikuti ajang festival musik rock Log Zhelebour 2004. Selain itu Maggots juga pernah jadi band pembuka konser Gigi di Medan pada 2006.

Kini Maggots telah merilis album bertajuk “Thanks The World”. Isinya delapan single. Beberapa sudah mereka pentaskan selama ini di setiap panggung. Lagu-lagu tersebut ialah Bedebah, Ampoen, Boring, Broken Mind, Damee, Rekonstuksi, Thanks to The World, dan Look at Your Self.

Proyek album ini mereka danai sendiri dan ribuan kaset telah terjual di Aceh dan luar daerah. Menurut Aulia, Ampoen merupakan salah satu lagu yang banyak diminati penggemar mereka.

Biar metal, para personil Maggots tidak mau melepaskan identitas Aceh saat mereka di panggung. Dalam setiap penampilan Maggots kerap menampilkan seni budaya dan alat musik Aceh.

‘Ini yang harus ditiru ke semua musisi Aceh agar menanamkan dan jangan meninggalkan budaya Aceh yang hampir punah, kalau bukan kita siapa lagi yang meneruskan,” ujar Aulia.

Ia berharap pecinta metal di Aceh khususnya kaum underground bisa menerima Maggots secara lebih luas lagi. Satu harapan yang belum Maggots raih, kata Aulia, ialah membahagiakan orang tua dan orang banyak.

Namun, dengan adanya Maggots, pecinta metal Aceh bisa berbangga kalau musisi underground lokal ini juga memiliki skill yang bisa dipertaruhkan. Meng-cover aksi Slipknot, memainkan lagu-lagu mereka yang sulit, inilah Maggots.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: