Seniman Serba Bisa Berprestasi Itu Guru Nyentrik dari SD Meuraxa

Ia juara karikatur tingkat nasional. Ia juga juara menulis artikel tingkat guru se-Indonesia. Sehari-hari ia seorang guru dengan sepada ontel, sandal gunung dan tas warisan neneknya. Ikut upacara bendera? Jangan tanya padanya, sebab ia tak pernah hadir!

____________________________________________________________

Ramah dan bersahabat. Itulah kesan pertama yang saya rasakan ketika sesosok lelaki muncul di hadapan saya. Bibirnya menarik segaris senyum sambil menyodorkan tangannya. “Idrus bin Harun,” ucapnya riang.

Mengenakan celana jeans dan kemeja garis-garis warna coklat, dipadu dengan topi pet warna senada, ia lebih mirip seorang seniman ketimbang menjadi guru, profesi yang sudah dilakoninya sejak tahun 2003.

Kesan itu semakin kuat dengan jambang dan kumis tipisnya yang tumbuh tidak teratur. “Saya tidak pernah punya keinginan untuk jadi guru,” katanya kepada The Atjeh Post, Senin awal pekan ini.

Kaca mata hitam berbingkai merahnya menunjukkan kesan jenakan di wajahnya yang hitam manis.

Bahkan sejak masih duduk di sekolah menengah atas ia merasa bahwa dirinya adalah seniman. Yang kerap berlaku aneh dan terkesan menganeh-anehkan diri. Setiap pagi ia berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel. Di ketiaknya terselip sebuah tas hitam dengan motif bunga mawar. “Ini tas nenek saya,” katanya tertawa. Selain buku dan peralatan menulis, di dalam tas tersebut ada balsem dan sapu tangan milik sang nenek.

Tahun 2003, setelah lulus dari PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) Unsyiah takdir itulah yang membawanya menjadi guru. Ia yang awalnya tidak begitu menyukai dunia anak-anak akhirnya malah terbawa pada situasi di mana dia harus terlibat di dunia itu.

Namun, dalam mengajar ia punya konsep sendiri. Ia tidak mau terjebak pada aturan baku kurikulum pendidikan yang menurutnya sangat menjemukan. Dan hanya akan membuat anak-anak merasa tertekan.

Idrus bin Harun. Lelaki kelahiran 11 Oktober 1981 ini memang telah menjadi guru. Namun jiwa senimannya bukannya hengkang, malah kian mengental dalam dirinya. Ia pun terus mengasah jiwa seninya dengan menulis puisi dan menggambar karikatur.

Puisi-puisi dan karikaturnya umumnya bertemakan politik, realitas sosial dan pemberontakan. Baginya puisi dan gambar adalah cara lain dalam meluapkan emosinya atas ketimpangan yang terjadi di masyarakat.

Besar dalam arus konflik juga ikut mempengaruhi karakter dan gaya seninya. Setidaknya dengan memilih cara ini ia ingin menyampaikan sesuatu yang berbeda dalam setiap karya seninya. “Saya tidak suka Kahlil Gibran, dan saya benci Kahlil Gibran!” ucapnya, karena itu Idrus tak pernah terinspirasi dari puisi-puisi penyair Lebanon ini.

Puisi-puisinya kerap menghiasi halaman di media-media lokal, juga media nasional. Karikaturnya pernah beberapa kali menjuarai lomba. Di bidang menulis ia pernah menyabet juara pertama di level nasional. Tak hanya itu, Idrus pun punya kebiasaan menyanyi dan memetik gitar. Tokoh idolanya adalah Iwan Fals.

Jiwa seni ini pula yang ikut ditularkan Idrus dalam mendidik murid-muridnya di SD N 48 Meuraxa, Banda Aceh. Pada tahun 2009 lalu atas persetujuan Kepala Sekolah ia membentuk sanggar Rumoh Seni Aneuk Miet.

Di sanggar ini ia mengajar anak-anak menggambar dan berteater. Walaupun usianya masih sangat muda, namun sanggar binaannya telah menjuarai dua kali event teater. “Untuk teater yang saya angkat tetap tema-tema politis dan sosial,” jelasnya.

Bagi Idrus, menjadi guru tidak berarti harus menghilangkan identitasnya. Lembaga sekolah tidak harus mengikatnya dengan balutan seragam dinas dan sepatu hitam mengkilat. Ia cukup dengan memakai kaus oblong atau kemeja biasa, dengan alas kaki sandal gunung favoritnya.

Bahkan, dia adalah satu-satunya guru yang belum pernah sekalipun mengikuti kegiatan upacara bendera di hari Senin. “Saya juga guru yang secara administrasi paling kacau,” imbuhnya.

Lelaki berpostur kecil ini mempunyai pandangan lain soal pendidikan. Kepada murid-muridnya ia lebih suka menerapkan belajar di alam terbuka. Karena dengan begitu anak-anak lebih mudah untuk diajak berkomunikasi. Mereka lebih berani dalam mengeluarkan pendapatnya karena pada posisi seperti itu guru telah menjadi teman bagi mereka.

Hasilnya, dalam proses belajar mengajar suasananya menjadi lebih nyaman. “Ketika pelajaran Biologi misalnya, kita belajar tentang tumbuh-tumbuhan, pohon itu kan adanya di luar kelas, bukan di dalam kelas,” katanya mengenai metode yang ia terapkan.

Ia berpendapat bahwa sekolah adalah aktivitas mengisi watu luang, jadi bisa dilakukan di mana saja, tak mesti di ruang kelas. Yang terpenting anak didik memahami esensi dari materi pelajaran yang diajarkan.

Pun begitu, bukan berarti ia harus bersikap asal-asalan, meski ia seorang seniman, Idrus menyadari betul bahwa ia adalah seorang pendidik yang digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Ia tak pernah berhenti belajar, ia punya banyak prestasi, karena dengan begitu ia ingin mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa sekolah adalah seni, yang indah dan menarik.

Biodata
Nama : Idrus bin Harun
Tempat/tgl lahir: Teupien Pukat, 11 Oktober 1981
Pekerjaan: Guru SDN 48 Meuraxa

Prestasi
-Juara 2 lomba poster oleh Yayasan Suloh, tahun 2003
-Juara 1 lomba karikatur oleh Fakultas Ilmu Budaya Sosial Politik Universitas Indonesia, tahun 2011
– Juara 1 lomba menulis artikel ilmiah popular tingkat guru se-Indonesia, oleh AGUPENA (Asosiasi Guru Penulis Indonesia)

4 Tanggapan

  1. waaaahhh seorang guru yg keren tuch sob beda dengan yg laen…… mantepppp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: