Dengan Scooter Sampah, Yusuf Kampanye Hijau

1337607913399379591

Yusuf dan Asep di depan Scooter Sampah

 

GaleriAbiee. Rumah sampah. Gubug sampah. Begitu kesan pertama melihat rumah sampah ini. Tak disangka, pemilik scooter rumah sampah ini sedang melakukan kampanye hijau. Perjalanan jauh ditempuh dengan mengendarai rumah scooter. Sekilas rumah scooter Alu alias Yusuf mirip gubug sampah. Namun begitu diamati ternyata bukan gubug gembel, melainkan rumah scooter yang bisa dibawa ke manapun.

Sekuter itu dimodivikasi dengan rangka dasar besi. Lalu rangka rumah dibuat dari batangan bambu. Ukuran rumah scooter ini sekitar seukuran bajay, mampu menampung 3 orang dewasa. Ide membuat rumah sampah, yang tersebut diilhami oleh keprihatinan remaja 23 tahun asal Bogor tentang sampah. Lebih khusus lagi pemakaian plastik dan pembuangannya yang sembarangan mengakibatkan pencemaran sungai dan akhirnya laut.

Remaja berambut gimbal ini mengampanyekan hidup hijau alias green. Kepedulian pemuda yang sangat melek informasi ini diwujudkan dengan mengkampanyekan peduli sampah. Untuk itu dia telah berkeliling pulau Kalimantan selama 4 bulan. Dia bersama satu temannya yang bertindak sebagai ‘lampu sign’ pada saat rumah sampah berjalan pada malam hari. Jika akan berbelok ke kiri atau ke kanan, Asep, pemuda usia 19 tahun, akan mengeluarkan tangannya dari sela-sela rumah sampahnya.

Selama perjalanan Yusuf dan asistennya akan memunguti sampah plastik dan botol-botol minuman kemasan. Sampah itu akan ditampung di keranjang sampah di atap mobil sampah. Jika terkumpul plastik-plastik minuman tersebut dijual di tukang pengumpul plastik di kota-kota yang dia lalui.

Selain menjual plastik, kedua remaja ini juga bekerja serabutan untuk biaya makan di kota-kota yang pernah disinggahi. Menarik pengalaman kedua remaja ini berjalan kaki memasuki wilayah Malaysia di Entikong. Mereka juga berpetualang sampai wilayah Sambas, Kalimantan Barat.

Perjalanan dua bulan dimulai dari Bogor ke Lombok. Demi kampanye green, kedua remaja ini membawa rumah sampah menyusuri jalanan Jawa-Bali-Lombok. Suka duka kampanye memuunguti sampah remaja ini tak sedikit mengundang simpati. Untuk kebutuhan makan dan bahan bakar, keduanya mendapatkan bantuan ala kadarnya dari banyak orang. Namun, dukanya juga ada ketika seluruh data foto-foto di HP dicuri ketika berada di atas ferry dari Pelabuhan Penyeberangan Padangbai menuju Lombok. Gitar sebagai alat untuk mengamen ‘dipinjam’ kenalan di dalam kapal dan tak pernah dikembalikan.

Remaja Yusuf dan Asep berkampanye agar para pengendara mobil tidak membuang sampah sembarangan. Ketika melewati Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, demikian Yusuf bercerita, apa jadinya jika binatang yang sering berkeliaran di pinggiran jalan makan plastik atau sampah, bisa membahayakan binatang liar.

Selain ke jalanan, menurut Yusuf, sampah juga secara sembarangan dibuang ke sungai dan laut. Menurut Yusuf, paling cepat dapat uang memunguti sampah plastik botol kemasan air atau minuman di bantaran atau muara sungai. Di tempat tersebut berserakan sampah, yang merupakan hasil pembuangan masyarakat yang menganggap sungai adalah tong sampah. Kita seharusnya malu disindir oleh Yusuf dengan kampanye hijau ala Yusuf dan Asep ini. Saat ini kampanye sampah

Yusuf tengah berlangsung di Garut, menuju Bogor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: