Menteri Kesehatan: Hampir Setiap Kabupaten di Aceh Ada HIV

 

JAKARTA – Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakanhumanimunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) sudah menular ke mana-mana. Nafsiah yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sejak 2006 ini blakblakan soal data terbaru penularan HIV/AIDS di Indonesia.

“HIV/AIDS itu sudah menular di mana-mana. Di Aceh, misalnya, ternyata sudah hampir setiap kabupaten/kota di sana melaporkan adanya HIV. Bayangkan, ini Serambi Mekkah, lo,” kata Nafsiah dalam wawancara Majalah Tempo pekan ini. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Mantan Direktur Departemen dan Kesehatan Perempuan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini merasa senang dengan keterbukaan laporan soal HIV/AIDS. “Dulu, para bupati/wali kota tidak mau melaporkan (kasus HIV/AIDS) karena merasa kita semua orang suci, kok. Ternyata, di Aceh, mereka punya keberanian. Tinggal dua kabupaten yang tidak melapor,” ujarnya.

Nafsiah mengatakan jika ditutup-tutupi, penyakit ini akan menyebar terus. Kalau jujur, kata dia, persebarannya bisa dibendung.

“Sekarang, kita punya PMTS Paripurna (Pencegahan Melalui Transmisi Seksual yang Paripurna),” kata dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang lulus pada 1971 ini.

Program PTMS Paripurna ini ditujukan kepada laki-laki. Alasannya, “Laki-laki punya pilihan: memegang teguh agamanya atau tidak. Nah, kalau tidak teguh pada agamanya, dia bisa memilih perilaku seks aman atau tidak. Dengan kata lain, kalau mau bikin dosa, setidaknya dia menjaga agar tidak tertular dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain,” Nafsiah menambahkan.

Untuk perempuan, Nafsiah menyadari kaum perempuan tak punya pilihan. Posisi tawarnya sangat rendah. Para pekerja seks perempuan kalau ditanya, jawabnya mereka ingin sehat dan kawin baik-baik, dan memiliki anak yang sehat. Namun mereka dilacurkan.

Untuk itu, kata dia, Kemenkes bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti Kementerian Sosial untuk mengeluarkan mereka dari sana, terutama pekerja seks yang masih anak-anak. Berdasarkan data, 40 persen pekerja seks perempuan itu berusia 15-24 tahun. | sumber: tempo.co

editor: Diki

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: