Seulawah RI-001 Sang Pahlawan Angkasa

1352121796128812388

Ilustrasi/Replika pesawat Dakota Seulawah RI-001 (Foto: Wikipedia)

GaleriAbiee- Sampai hari ini, sebuah pesawat Dakota tua masih teronggok diujung barat Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Orang-orang sering bertanya-tanya, kenapa “bangkai” pesawat eks Perang Dunia II itu dipajang disana. Memang, tidak semua orang memahami bahwa “bangkai” pesawat Dakota itu adalah pahlawan angkasa hasil donasi rakyat Aceh waktu itu.

Hebat! Bagaimana mungkin, dimasa sesulit itu rakyat Aceh masih sempat memberikan donasi untuk perjuangan melawan Belanda. Kisahnya begini, saat Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh pada Juni 1948, dia menantang semangat patriotisme rakyat Aceh yang hadir dalam pertemuan di Hotel Atjeh, Kutaradja. Bung Karno mencetuskan ide pembelian sebuah pesawat udara yang sangat dibutuhkan dalam menembus blokade musuh. “Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul,” kata Bung Karno waktu itu.

Serta merta, berdirilah seorang saudagar muda berusia 30 tahun bernama M. Djuned Joesoef (Ketua gabungan saudagar Aceh-GASIDA) yang menyatakan kesediaannya memberikan donasi. Setelah itu, disusul oleh sejumlah saudagar yang lain, termasuk mereka yang hadir dalam pertemuan itu. Donasi yang terkumpul guna membeli pesawat udara untuk menjawab tantangan Bung Karno waktu itu sebanyak 120.000 dolar Singapura ditambah 20 Kg emas. Dana sebesar itu cukup untuk membeli dua unit pesawat Dakota. Kemudian, hasil donasi itu diserahkan langsung oleh Residen Aceh T.M.Daudsyah kepada Bung Karno.

Pesawat itu merupakan dua mesin terbang yang dimiliki Indonesia ketika menghadapi agresi milter Belanda tahun 1948. Kedua pesawat itu diberi nama Seulawah RI-001 dan 002. Tugas Seulawah RI-001 adalah membawa senjata, mesiu dan obat-obatan melintasi garis musuh. Sedangkan Seulawah RI-002 dikaryakan di Pangkalan Rangoon, dan keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membeli dua pesawat baru RI-007 dan RI-009.

Apa jasa yang telah diberikan pesawat ini kepada proses berdirinya Republik Indonesia? Menurut AK Jakobi (1992) dalam buku Aceh Daerah Modal, pesawat Seulawah RI-001 menjadi kekuatan pertama armada TNI-AU yang telah berjasa besar menerobos blokade Belanda. Kemudian, menjadi jembatan yang menghubungkan antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI di Suliki (Bukit Tinggi) dan Kutaraja (Banda Aceh). Akhirnya, pesawat itu menjadi cikal bakal pesawat Garuda yang dikomersilkan.

Menyimak kisah tersebut, kini kita bertanya: siapakah sesungguhnya yang menjadi pahlawannya? Saudagar yang tergabung dalam GASIDA atau rakyat Aceh? Menyumbang untuk perjuangan melawan penjajah Belanda bukan hal baru bagi rakyat Aceh. Ketika untuk pertama kalinya Belanda menjejakkan kaki di bumi Aceh, 8 April 1873, peti harta rakyat Aceh telah terkuras untuk donasi perjuangan perang sabil melawan Belanda. Meski hartanya telah terkuras, mereka tidak pernah berharap menjadi pahlawan, tetapi tekadnya hanya untuk membantu para pejuang dengan tulus ikhlas.

Di kemudian hari semangat patriotisme itu dilupakan oleh gemerlapnya negeri ini. Lalu, negeri yang berada diujung Pulau Sumatera itupun makin terpinggirkan. Itulah resiko sebuah perjuangan. Saat berada dalam kesulitan dan tekanan penjajah, yang muncul adalah pahlawan sejati tanpa pamrih. Kata penulis kisah Prang Sabi, mereka mati hanya dengan satu cita-cita, menjadi syuhada dan bertemu dengan budiadari.

Sebaliknya, saat sebuah negeri telah berada dalam kemegahan maka menjamurlah orang yang mengaku sebagai pahlawan. Mereka minta balas jasa karena semua dihitung dengan materi. Mereka telah melupakan kiprah para pejuang itu. Bahkan, mereka larut dalam side effect kemegahan dan hedonisme, padahal hasil saat ini karena kegigihan para pejuang dimasa lalu.

Ketika anak-anak para pejuang itu mempertanyakan donasi orang tua mereka, tertuduhlah mereka sebagai pembangkang. Supaya tidak banyak bertanya, dikembalikanlah replika mesin terbang tua itu sebagai bukti bakti Aceh kepada republik. Benda itu dipajang didepan khalayak, lalu anak cucu para donaturnya menatap pesawat Dakota Seulawah RI-001 sambil berbisik: “itukah pahlawan angkasa yang dibeli oleh kakek?”

GaleriAbie[kompasAsia]

Iklan

3 Tanggapan

  1. kekuasaan telah membutakan nilai2 perjuangan pahlawan yang sebenarnya di masa lalu, apalagi saat ini….
    ingat pesan Bung Hatta sebelum wafat, “pejabat negeri ii sudah tidak punya rasa malu”

  2. Pejuang sejati pantang menyerah

  3. Reblogged this on ENERGI POWER SISTEM ILMU and commented:
    Seulawah RI-001 Sang Pahlawan Angkasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: